![]() |
| Buku Pertama Karya Lilik Ratnawati Sebagai Pemimpin Desa |
Buku Plawikan MAPAN bukan sekadar catatan perjalanan seorang pemimpin desa, melainkan potret utuh tentang bagaimana kepemimpinan lahir dari kedekatan dengan rakyat, tumbuh dari pengalaman lapangan, dan dibentuk oleh komitmen untuk mengabdi. Buku ini menghadirkan kisah, gagasan, serta refleksi mendalam tentang arti membangun desa secara berkelanjutan, berkeadilan, dan berorientasi pada masa depan.
Di tengah dinamika pembangunan nasional yang kerap berpusat pada kota, buku ini mengingatkan bahwa desa adalah fondasi utama peradaban. Desa bukan objek pembangunan, melainkan subjek yang memiliki potensi, kearifan lokal, dan kekuatan sosial yang luar biasa. Melalui sudut pandang kepemimpinan Kepala Desa Plawikan, Lilik Ratnawati, pembaca diajak menyelami realitas pemerintahan desa: mulai dari tantangan administratif, keterbatasan anggaran, hingga dinamika sosial masyarakat yang beragam.
Konsep MAPAN—yang merepresentasikan Mandiri, Aman, Produktif, Adil, dan Nyaman—menjadi benang merah dalam buku ini. MAPAN bukan hanya jargon, tetapi sebuah visi yang diterjemahkan ke dalam langkah nyata. Setiap kebijakan desa, setiap program pembangunan, dan setiap keputusan pemerintahan selalu dikaitkan dengan dampaknya bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan bahasa yang lugas namun reflektif, buku ini menunjukkan bahwa kepemimpinan desa menuntut lebih dari sekadar kemampuan administratif; ia membutuhkan empati, keberanian mengambil keputusan, serta ketulusan dalam melayani.
Buku ini juga mengangkat pentingnya inovasi dalam pemerintahan desa. Di era modern, kepala desa dituntut adaptif terhadap perubahan zaman—mulai dari pemanfaatan teknologi informasi, transparansi anggaran, hingga keterbukaan komunikasi dengan warga. Plawikan MAPAN menggambarkan bagaimana inovasi tidak harus selalu mahal atau rumit, tetapi berangkat dari pemahaman mendalam atas kebutuhan riil masyarakat. Ketika pemerintah desa dan warga berjalan seiring, pembangunan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai gerakan bersama.
Lebih jauh, buku ini menyentuh dimensi kemanusiaan seorang pemimpin. Di balik jabatan dan tanggung jawab formal, terdapat sosok manusia yang juga menghadapi dilema, kritik, dan harapan besar dari masyarakat. Kejujuran dalam mengakui keterbatasan, serta keteguhan untuk terus belajar, menjadi nilai penting yang ditonjolkan dalam narasi ini. Hal tersebut menjadikan buku ini relevan tidak hanya bagi aparatur desa, tetapi juga bagi siapa pun yang tertarik pada kepemimpinan berbasis nilai dan pengabdian.
Plawikan MAPAN pada akhirnya adalah ajakan. Ajakan untuk melihat desa dengan cara yang lebih bermartabat, ajakan untuk membangun dari bawah dengan semangat gotong royong, dan ajakan untuk percaya bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Buku ini menjadi referensi penting bagi kepala desa, perangkat desa, BPD, akademisi, aktivis desa, serta generasi muda yang ingin memahami bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kekuatan desa-desa yang mapan dan berdaya.

0 Komentar